Footer


*WANITA & ISLAM*WANITA & ISLAM*WANITA & ISLAM*

Cursor

SAHABAT WANITA ISLAM

Tuesday, 19 July 2011

Kisah Pernikahan Rasulullah S.A.W. dengan Siti Khadijah


Bermimpi Matahari Turun Ke Rumahnya.
Dia adalah Khadijah r.a, seorang wanita janda, bangsawan, hartawan, cantik dan budiman. Ia disegani oleh masyarakat Quraisy khususnya, dan bangsa Arab pada umumnya. Sebagai seorang pengusaha, ia banyak memberikan bantuan dan modal kepada pedagang-pedagang atau melantik orang-orang untuk mewakili urusan-urusan perniagaannya ke luar negeri.

Banyak pemuka Quraisy yang ingin menikahinya dan sanggup membayar mas kawin berapa pun yang dikehendakinya, namun selalu ditolaknya dengan halus kerana tak ada yang berkenan di hatinya. Pada suatu malam ia bermimpi melihat matahari turun dari langit,masuk ke dalam rumahnya serta memancarkan sinarnya ke semua tempat sehingga tiada sebuah rumah di kota Makkah yang luput dari sinarnya. Mimpi itu diceritakan kepada anak bapak saudaranya yang bernama Waraqah bin Naufal. Dia seorang lelaki yang berumur lanjut, ahli dalam mentakbirkan mimpi dan ahli tentang sejarah bangsa-bangsa purba. Waraqah juga mempunyai pengetahuan luas dalam agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi terdahulu.
Waraqah berkata: "Takwil dari mimpimu itu ialah bahwa engkau akan menikah kelak dengan seorang Nabi akhir zaman."
"Nabi itu berasal dari negeri mana?" tanya Khadijah bersungguh-sungguh.
"Dari kota Makkah ini!" ujar Waraqah singkat.
"Dari suku mana?"
"Dari suku Quraisy juga.
"Khadijah bertanya lebih jauh: "Dari keluarga mana?"
"Dari keluarga Bani Hasyim, keluarga terhormat," kata Waraqah dengan nada menghibur. Khadijah terdiam sejenak, kemudian tanpa sabar meneruskan pertanyaan terakhir:
"Siapakah nama bakal orang agung itu, hai anak bapa saudaraku?"Orang tua itu mempertegas: "Namanya Muhammad SAW. Dialah bakal suamimu!"

Khadijah pulang ke rumahnya dengan perasaan yang luar biasa gembiranya. Belum pernah ia merasakan kegembiraan sedemikian hebat. Maka sejak itulah Khadijah sentiasa bersikap menunggu dari manakah gerangan kelak munculnya sang pemimpin itu.

Nabi Muhammad Berniaga

Muhammad, bakal suami wanita hartawan itu, adalah seorang yatim piatu yang miskin sejak kecilnya,dipelihara oleh bapa saudaranya, Abu Thalib, yang hidupnya pun serba kekurangan. Meskipun demikian, bapa saudaranya amat sayang kepadanya, menganggapnya seperti anak kandung sendiri, mendidik dan mengasuhnya sebaik-baiknya dengan adab, tingkah laku dan budi pekerti yang terpuji.

Pada suatu ketika, Abu Thalib berbincang-bincang dengan saudara perempuannya bernama 'Atiqah mengenai diri Muhammad.
Beliau berkata: "Muhammad sudah pemuda dua puluh empat tahun. Semestinyalah sudah kahwin.Tapi kita tak mampu mengadakan perbelanjaan, dan tidak tahu apa yang harus diperbuat.
"Setelah memikirkan segala ikhtiar, 'Atiqah pun berkata: "Saudaraku, saya mendengar berita bahwa Khadijah akan memberangkatkan kafilah niaga ke negeri Syam dalam waktu dekat ini. Siapa yang berhubungan dengannya biasanya rezekinya bagus, diberkati Allah SWT.
Bagaimana kalau kita pekerjakan Muhammad kepadanya? Saya kira inilah jalan untuk memperolehi nafkah, kemudian dicarikan isterinya.
"Abu Thalib menyetujui saranan saudara perempuannya. Dirundingkan dengan Muhammad, ia pun tidak keberatan.
'Atiqah mendatangi wanita hartawan itu, melamar pekerjaan bagi Muhammad, agar kiranya dapat diikut sertakan dalam kafilah niaga ke negeri Syam .
Khadijah, tatkala mendengar nama "Muhammad", ia berfikir dalam hatinya: "Oh... inilah takbir mimpiku sebagaimana yang diramalkan oleh Waraqah bin Naufal,bahwa ia dari suku Quraisy dan dari keluarga Bani Hasyim, dan namanya Muhammad, orang terpuji, berbudi pekerti tinggi dan nabi akhir zaman." Seketika itu juga timbullah hasrat di dalam hatinya untuk bersuamikan Muhammad, tetapi tidak dilahirkannya karena khuatir akan fitnah.
"Baiklah," ujar Khadijah kepada 'Atiqah, "Saya terima Muhammad dan saya berterima kasih atas kesediaannya. Semoga Allah SWT melimpahkan berkatnya atas kita bersama.".
Wajah Khadijah cerah, tersenyum sopan, menyembunyikan apa yang tersudut di kalbunya. Kemudian ia meneruskan: "Wahai 'Atiqah, saya tempatkan setiap orang dalam rombongan niaga dengan penghasilan tinggi, dan bagi Muhammad SAW akan diberikan lebih tinggi dari biasanya.
"Atiqah berterima kasih, ia pulang dengan perasaan gembira menemui saudaranya, menceritakan kepadanya hasil perundingannya dengan wanita hartawan dan budiman itu. Abu Thalib menyambutnya dengan gembira. Kedua bersaudara itu memanggil Muhammad SAW seraya berkata:
"Pergilah anakanda kepada Khadijah r.a, ia menerima engkau sebagai pekerjanya. Kerjakanlah tugasmu sebaik-baiknya."
Muhammad SAW menuju ke rumah wanita pengusaha itu. Sementara akan keluar dari pekarangan rumah bapa saudaranya, tiba-tibalah ia mencucurkan air mata kesedihan mengenang nasibnya. Tiada yang menyaksikannya dan menyertainya dalam kesedihan hati itu selain para malaikat langit dan bumi.

Kesaksian Seorang Rahib

Tatkala kafilah niaga itu siap akan berangkat,
berkatalah Maisarah, kepala rombongan: "Hai Muhammad, pakailah baju bulu itu, dan peganglah bendera kafilah. Engkau berjalan di depan, menuju ke negeri Syam!
"Muhammad SAW melaksanakan perintah. Setelah iring- iringan keluar dari halaman memasuki jalan raya, tanpa sedar Muhammad SAW menangis kembali, tiada yang melihatnya kecuali Allah dan para malaikat-Nya.
Dari mulutnya terucap suara kecil: "Aduh hai nasib! Mana gerangan ayahku Abdullah, mana gerangan ibuku Aminah. Kiranyalah mereka menyaksikan nasib anakandanya yang miskin yatim piatu ini, yang justeru lantaran ketiadaannyalah sehingga terbawa jadi buruh upahan ke negeri jauh. Aku tidak tahu apakah aku masih akan kembali lagi ke negeri ini, tanah tumpah darahku. "Jeritan batin itu membuat para malaikat langit bersedih. Mereka memintakan rahmat baginya.
Maisarah memperlakukan Muhammad SAW dengan agak istimewa, sesuai dengan wasiat Khadijah. Diberinya pakaian terhormat, kenderaan unta yang tangkas dengan segala perlengkapannya.
Perjalanan mengambil waktu beberapa hari. Terik matahari begitu panas sekali. Tetapi Muhammad SAW berjalan sentiasa dipayungi awan yang menaunginya hingga mereka berhenti di sebuah peristirehatan dekat rumah seorang Rahib Nasrani.
Muhammad SAW turun dari untanya, pergi berangin-angin melepaskan lelah di bawah pohon yang teduh. Rahib keluar dari tempat pertapaannya. Ia hairan melihat gumpalan awan menaungi kafilah dari Makkah, padahal tak pernah terjadi selama ini. Ia tahu apa erti tanda itu karena pernah dibacanya didalam Kitab Taurat.
Rahib menyiapkan suatu perjamuan bagi kafilah itu dengan maksud untuk menyiasat siapa pemilik karamah dari kalangan mereka. Semua anggota rombongan hadir dalam majlis perjamuan itu, kecuali Muhammad SAW seorang diri yang tinggal untuk menjaga barang- barang dan kenderaan.

Ketika Rahib melihat awan itu tidak bergerak, tetap di atas kafilah, bertanyalah beliau: "Apakah di antara kalian masih ada yang tidak hadir di sini? "
Maisarah menjawab:"Hanya seorang yang tinggal untuk menjaga barang-barang."
Rahib pergi menjemput Muhammad SAW dan terus menjabat tangannya, membawanya ke majlis perjamuan.

Ketika Muhammad SAW. bergerak, Rahib memperhatikan awan itu turut bergerak pula mengikuti arah ke mana Muhammad SAW berjalan. Dan di saat Muhammad SAW masuk ke ruangan perjamuan, Rahib keluar kembali menyaksikan awan itu, dan dilihatnya awan itu tetap di atas, tidak bergerak sedikit pun walaupun dihembus angin. Maka mengertilah ia siapa gerangan yang memiliki karamah dan keutamaan itu.

Rahib masuk kembali dan mendekati Muhammad SAW,bertanya: "Hai pemuda, dari negeri mana asalmu?"
"Dari Makkah".
"Dari qabilah mana?" tanya sang Rahib.
"Dari Quraisy, tuan!"
"Dari keluarga siapa?""Keluarga Bani Hasyim."
''Siapa namamu?""Namaku, Muhammad.
"Serta merta ketika mendengar nama itu, Rahib berdiri dan terus memeluk Muhammad SAW serta menciumnya di antara kedua alisnya seraya mengucapkan:
"Laa IlaahaIllallaah, Muhammadar Rasulullah."
Ia menatap wajah Muhammad SAW dengan perasaan takjub, seraya bertanya:
"Sudikah engkau memperlihatkan tanda di badanmu agar jiwaku tenteram dan keyakinanku lebih mantap?"
"Tanda apakah yang tuan maksudkan?" tanya Muhammad SAW.
"Silakan buka bajumu supaya ku lihat tanda akhir kenabian di antara kedua bahumu!"
Muhammad SAW. memperkenankannya, dimana Rahib tua itu melihat dengan jelas ciri-ciri yang dimaksudkan.
"Ya....ya....tertolong, tertolong!" seru Rahib."
Pergilah ke mana hendak pergi. Engkau terus ditolong!"
Rahib itu mengusap wajah Muhammad SAW, sambil menambahkan:
"Hai hiasan di hari kemudian, hai pemberi syafa'at di akhirat, hai peribadi yang mulia, hai pembawa nikmat, hai nabi rahmat bagi seluruh alam!"Dengan pengakuan demikian,
Rahib dari Ahlil-Kitab itu telah menjadi seorang muslim sebelum Muhammad SAW. dengan rasmi menerima wahyu kerasulan dari langit.

Paderi-paderi Yahudi Gemetar Ketakutan

Pasar dibuka beberapa hari lamanya. Semua jualan laris dengan keuntungan berlipat ganda, mengatasi pengalaman yang sudah-sudah.Kebetulan pada saat itu bertepatan dengan hari Yahudi, yang dimeriahkan dengan upacara besar-besaran. Muhammad SAW, Abu Bakar dan Maisarah keluar menonton keramaian itu. Tatkala Muhammad SAW memasuki tempat upacara untuk menyaksikan cara mereka beribadat, maka tiba-tiba berjatuhanlah semua lilin-lilin menyala yang bergantungan pada tali di sekitar ruangan, yang menyebabkan paderi-paderi Yahudi gemetar ketakutan. Seorang di antara mereka bertanya:
"Alamat apakah ini?" Semuanya hairan, cemas dan ketakutan.
"Ini bererti ada orang asing yang hadir di sini," jawab pengerusi upacara.
"Kita baca dalam Taurat bahwa alamat ini akan muncul bilamana seorang lelaki bernama Muhammad SAW, Nabi akhir zaman, mendatangi hari raya agama Yahudi.
"Mungkinlah sekarang orang itu berada di ruangan kita ini. Carilah lelaki itu, dan kalau bertemu, segeralah tangkap!"
Abu Bakar r.a, sahabat Muhammad SAW sejak dari kecil,dan Maisarah, yang mendengar berita itu segera mendekati Muhammad SAW yang berdiri agak terpisah, dan mengajaknya keluar perlahan-lahan di tengah-tengah kesibukan orang yang berdesak-desakan keluar masuk ruangan.

Tanpa menunda waktu lagi, Maisarah segera memerintahkan kafilah berangkat pulang ke Makkah. Dengan demikian tertolonglah Muhammad SAW dari kejahatan orang- orang Yahudi.

Nabi Muhammad Pulang Ke Makkah.

Biasanya dalam perjalanan pulang, kira-kira jarak tujuh hari lagi mendekati Makkah, Maisarah mengirim seorang utusan kepada Khadijah r.a, memberitahukan bakal kedatangan kafilah serta perkara- perkara lain yang menyangkut perjalanan.

Maisarah menawarkan kepada Muhammad SAW: "Apakah engkau bersedia diutus membawa berita ke Makkah?"
Muhammad SAW berkata: "Ya, saya bersedia apabila ditugaskan".
Pemimpin rombongan mempersiapkan unta yang cepat untuk dinaiki oleh utusan yang akan berangkat terlebih dahulu ke kota Makkah. Ia pun menulis sepucuk surat memberikan kepada majikannya bahwa perniagaan kafilah yang disertai Muhammad SAW mendapat hasil laba yang sangat memuaskan, dan menceritakan pula tentang pengalaman- pengalaman aneh yang berkaitan dengan diri Muhammad SAW.

Tatkala Muhammad SAW menuntun untanya dan sudah hilang dari pandangan mata, maka Allah SWT menyampaikan wahyu kepada malaikat Jibril a.s .:
"Hai Jibril, singkatkanlah bumi di bawah kaki-kaki unta Muhammad SAW! Hai Israfil, jagalah ia dari sebelah kanannya! Hai Mikail, jagalah ia dari sebelah kirinya! Hai awan, teduhilah ia di atas kepalanya!"Kemudian Allah SWT mendatangkan ngantuk kepadanya sehingga baginda SAW tertidur nyenyak dan tiba-tiba telah sampai di Makkah dalam tempo yang cukup singkat.
Saat terbangun, ia hairan mendapati dirinya telah berada di pintu masuk kota kelahirannya. Baginda SAW sedar bahwa ini adalah mukjizat Tuhan kepadanya, lalu bersyukur memuji Zat Yang Maha Kuasa. Sementara baginda SAW mengarahkan untanya menuju ke tempat Khadijah r.a, secara kebetulan Khadijah r.a pada saat itu sedang duduk sambil kepalanya keluar jendela memandangi jalan ke arah Syam, tiba-tiba dilihatnya Muhammad SAW di atas untanya dari arah bertentangan di bawah naungan awan yang bergerak perlahan-lahan di atas kepalanya.

Khadijah r.a menajamkan matanya, bimbang kalau-kalau tertipu oleh penglihatannya, sebab yang dilihatnya hanyalah Muhammad SAW sendirian tanpa rombongan,padahal telah dipesannya kepada Maisarah agar menjaganya sebaik-baik. Ia bertanya kepada wanita-wanita sahayanya yang duduk di sekitarnya:
"Apakah kamu mengenali siapa pengendara yang datang itu?" sambil tangannya menunjuk ke arah jalan.
Seorang di antara mereka menjawab:"Seolah-olah Muhammad Al-Amiin, ya sayyidati!"
Kegembiraan Khadijah r.a terlukis dalam ucapannya:
"Kalau benar Muhammad Al-Amiin, maka kamu akan ku merdekakan bilamana ia telah sampai!"

Tak lama kemudian muncullah Muhammad SAW di depan pintu rumah wanita hartawan itu, yang langsung menyambutnya dengan tutur sapa tulus ikhlas:
"Ku berikan anda unta pilihan, tunggangan khusus dengan apa yang ada di atasnya."
Muhammad SAW mengucapkan terima kasih, kemudian menyerahkan surat dari ketua rombongan. Ia minta izin pulang ke rumah bapa saudaranya setelah melaporkan tentang perniagaan mereka ke luar negeri.

Khadijah Menawarkan Diri

Muhammad Al-Amiin muncul di rumah Khadijah. Wanita usahawan itu berkata:
"Hai Al-Amiin, katakanlah apa keperluanmu! "
Suaranya ramah, bernada dermawan. Dengan sikap merendahkan diri tapi tahu diharga dirinya, Muhammad SAW berbicara lurus, terus terang, meskipun agak malu-malu tetapi pasti. katanya:
"Kami sekeluarga memerlukan nafkah dari bahagianku dalam rombongan niaga. Keluarga kami amat memerlukannya untuk mencarikan jodoh bagi anak saudaranya yang yatim piatu". Kepalanya tertunduk, dan wanita hartawan itu memandangnya dengan penuh ketakjuban.
"Oh, itukah....! Muhammad, upah itu sedikit, tidak menghasilkan apa- apa bagimu untuk menutupi keperluan yang engkau maksudkan,"
kata Khadijah r.a."Tetapi biarlah, nanti saya sendiri yang mencarikan calon isteri bagimu".
Ia berhenti sejenak, meneliti. Kemudian meneruskan dengan tekanan suara memikat dan mengandungi isyarat:
"Aku hendak mengawinkanmu dengan seorang wanita bangsawan Arab. Orangnya baik, kaya, diingini oleh banyak raja-raja dan pembesar-pembesar Arab dan asing, tetapi ditolaknya. Kepadanyalah aku hendak membawamu".
Khadijah tertunduk lalu melanjutkan:"Tetapi sayang, ada aibnya...! Dia dahulu sudah pernah bersuami. Kalau engkau mahu, maka dia akan menjadi pengkhidmat dan pengabdi kepadamu".

Pemuda Al-Amiin tidak menjawab. Mereka sama-sama terdiam, sama-sama terpaku dalam pemikirannya masing-masing. Yang satu memerlukan jawapan, yang lainnya tak tahu apa mahu dijawab. Khadijah r.a tak dapat mengetahui apa yang terpendam di hati pemuda Bani Hasyim itu, pemuda yang terkenal dengan gelaran Al-Amiin (jujur). Pemuda Al- Amiin itupun mungkin belum mengetahui siapa kira-kira calon yang dimaksud oleh Khadijah r.a. Ia minta izin untuk pulang tanpa sesuatu keputusan yang ditinggalkan.
Ia menceritakan kepada bapa saudaranya:"Aku merasa amat tersinggung oleh kata-kata Khadijah r.a. Seolah-olah dia memandang enteng dengan ucapannya ini dan itu "anu dan anu...."Ia mengulangi apa yang dikatakan oleh perempuan kaya itu.

Atiqah juga marah mendengar berita itu. Dia seorang perempuan yang cepat naik darah kalau pihak yang dinilainya menyinggung kehormatan Bani Hasyim.
Katanya: "Muhammad, kalau benar demikian, aku akan mendatanginya".
Atiqah tiba di rumah Khadijah r.a dan terus menegurnya:"Khadijah, kalau kamu mempunyai harta kekayaan dan kebangsawan, maka kamipun memiliki kemuliaan dan kebangsawanan. Kenapa kamu menghina puteraku, anak saudaraku Muhammad?"
Khadijah r.a terkejut mendengarnya. Tak disangkanya bahwa kata- katanya itu akan dianggap penghinaan.
Ia berdiri menyabarkan dan mendamaikan hati Atiqah: "Siapakah yang sanggup menghina keturunanmu dan sukumu? Terus terang saja ku katakan kepadamu bahwa dirikulah yang ku maksudkan kepada Muhammad SAW. Kalau ia mahu, aku bersedia menikah dengannya; kalau tidak, aku pun berjanji tak akan bersuami hingga mati".
Pernyataan jujur ikhlas dari Khadijah r.a membuat 'Atiqah terdiam. Kedua wanita bangsawan itu sama-sama cerah.
Percakapan menjadi serius."Tapi Khadijah, apakah suara hatimu sudah dimaklumi oleh anak bapa saudaramu Waraqah bin Naufah?"
tanya 'Atiqah sambil meneruskan:"Kalau belum cubalah meminta persetujuannya."
"Ia belum tahu, tapi katakanlah kepada saudaramu, Abu Thalib, supaya mengadakan perjamuan sederhana. Jamuan minum, dimana sepupuku diundang, dan disitulah diadakan lamaran",

Khadijah r.a berkata seolah-olah hendak mengatur siasat. Ia yakin Waraqah takkan keberatan kerana dialah yang menafsirkan mimpinya akan bersuamikan seorang Nabi akhir zaman.
'Atiqah pulang dengan perasaan tenang, puas. Pucuk dicinta ulam tiba. Ia segera menyampaikan berita gembira itu kepada saudara-saudaranya: Abu Thalib, Abu Lahab, Abbas dan Hamzah.
Semua riang menyambut hasil pertemuan 'Atiqah dengan Khadijah r.a.
"Itu bagus sekali", kata Abu Thalib,
"Tapi kita harus bermesyuarat dengan Muhammad SAW lebih dahulu".

Janda Cantik Bermata Jeli.

Sebelum dijemput oleh bapa saudaranya, maka terlebih dahulu ia pun telah menerima seorang perempuan bernama Nafisah, utusan Khadijah r.a yang datang untuk menjalin hubungan kekeluargaan.
Utusan peribadi Khadijah itu bertanya:
"Muhammad, kenapa engkau masih belum berfikir mencari isteri?"
Muhammad SAW menjawab:
"Hasrat ada, tetapi kesanggupan belum ada."
"Bagaimana kalau seandainya ada yang hendak menyediakan nafkah? Lalu engkau mendapat seorang isteri yang baik, cantik, berharta, berbangsa dan sekufu pula denganmu, apakah engkau akan menolaknya?"
"Siapakah dia?" tanya Muhammad SAW.
"Khadijah!" Nafisah berterus terang.
"Asalkan engkau bersedia, sempurnalah segalanya. Urusannya serahkan kepadaku!"Usaha Nafisah berjaya.
Ia meninggalkan putera utama Bani Hasyim dan langsung menemui Khadijah r.a, menceritakan kesediaan Muhammad SAW. Setelah Muhammad SAW menerima pemberitahuan dari saudara- saudaranya tentang hasil pertemuan dengan Khadijah r.a, maka baginda tidak keberatan mendapatkan seorang janda yang usianya lima belas tahun lebih tua daripadanya. Betapa tidak setuju, apakah yang kurang pada Khadijah? Ia wanita bangsawan, cantik, hartawan, budiman. Dan utamanya pula karena hatinya telah dibukakan Tuhan untuk mencintainya, telah ditakdirkan akan dijodohkan dengannya. Kalau dikatakan janda, biarlah! Ia memang janda umur empat puluh, tapi janda yang masih segar, bertubuh ramping, berkulit putih dan bermata jeli.

Maka diadakanlah acara yang penuh keindahan itu. Hadir sama Waraqah bin Naufal dan beberapa orang-orang terkemuka Arab yang sengaja dijemput. Abu Thalib dengan rasmi meminang Khadijah r.a kepada saudara sepupunya. Orang tua bijaksana itu setuju. Tetapi dia meminta tempoh untuk berunding dengan wanita berkenaan.

Pernikahan Muhammad dengan Khadijah

Khadijah r.a diminta pendapat. Dengan jujur ia berkata kepadaWaraqah:
"Hai anak bapa saudaraku, betapa aku akan menolak Muhammad SAW padahal ia sangat amanah, memiliki keperibadian yang luhur, kemuliaan dan keturunan bangsawan, lagi pula pertalian kekeluargaannya luas".
"Benar katamu, Khadijah, hanya saja ia tak berharta", ujar Waraqah.
"Kalau ia tak berharta, maka aku cukup berharta. Aku tak memerlukan harta lelaki. Ku wakilkan kepadamu untuk menikahkan aku dengannya," demikian Khadijah r.a menyerahkan urusannya.

Waraqah bin Naufal kembali mendatangi Abu Thalib memberitakan bahwa dari pihak keluarga perempuan sudah bulat mufakat dan merestui bakal pernikahan kedua mempelai. Lamaran diterima dengan persetujuan mas kahwin lima ratus dirham.
Abu Bakar r.a, yang kelak mendapat sebutan "Ash-Shiddiq" sahabat akrab Muhammad SAW. sejak dari masa kecil, memberikan sumbangan pakaian indah buatan Mesir, yang melambangkan kebangsawaan Quraisy, sebagaimana layaknya dipakai dalam upacara adat istiadat pernikahan agung, apalagi karena yang akan dinikahi adalah seorang hartawan dan bangsawan pula. Peristiwa pernikahan Muhammad SAW dengan Khadijah r.a berlangsung pada hari Jumaat, dua bulan sesudah kembali dari perjalanan niaga ke negeri Syam.

Bertindak sebagai wali Khadijah r.a ialah bapa saudaranya bernama 'Amir bin Asad, sedang Waraqah bin Naufal membacakan khutbah pernikahan dengan fasih, disambut oleh Abu Thalib sebagai berikut:
"Alhamdu Lillaah, segala puji bagi Allah Yang menciptakan kita keturunan (Nabi) Ibrahim, benih (Nabi) Ismail, anak cucu Ma'ad, dari keturunan Mudhar."
Begitupun kita memuji Allah SWT Yang menjadikan kita penjaga rumah-Nya, pengawal Tanah Haram-Nya yang aman sejahtera, dan menjadikan kita hakim terhadap sesama manusia."Sesungguhnya anak saudaraku ini, Muhammad bin Abdullah, kalau akan ditimbang dengan laki-laki manapun juga, niscayalah ia lebih berat dari mereka sekalian. Walaupun ia tidak berharta, namun harta benda itu adalah bayang-bayang yang akan hilang dan sesuatu yang akan cepat perginya. Akan tetapi Muhammad SAW, tuan-tuan sudah sama mengenalinya siapa dia. Dia telah melamar Khadijah binti Khuwailid. Dia akan memberikan mas kahwin lima ratus dirham yang akan segera dibayarnya dengan tunai dari hartaku sendiri dan saudara-saudaraku.
"Demi Allah SWT, sesungguhnya aku mempunyai firasat tentang dirinya bahwa sesudah ini, yakni di saat-saat mendatang, ia akan memperolehi berita gembira (albasyaarah) serta pengalaman- pengalaman hebat.Semoga Allah memberkati pernikahan ini".

Penyambutan untuk memeriahkan majlis pernikahan itu sangat meriah di rumah mempelai perempuan. Puluhan anak-anak lelaki dan perempuan berdiri berbaris di pintu sebelah kanan di sepanjang lorong yang dilalui oleh mempelai lelaki, mengucapkan salam marhaban kepada mempelai dan menghamburkan harum-haruman kepada para tamu dan pengiring.

Selesai upacara dan tamu-tamu bubar, Khadijah r.a membuka isi hati kepada suaminya dengan ucapan:
"Hai Al-Amiin, bergembiralah!Semua harta kekayaan ini baik yang bergerak mahupun yang tidak bergerak, yang terdiri dari bangunan-bangunan, rumah-rumah,barang- barang dagangan, hamba-hamba sahaya adalah menjadi milikmu. Engkau bebas membelanjakannya ke jalan mana yang engkau redhai !"

Itulah sebagaimana Firman Allah SWT yang bermaksud:"Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kekayaan". (Adh-Dhuhaa: Alangkah bahagianya kedua pasangan mulia itu, hidup sebagai suami isteri yang sekufu, sehaluan, serasi dan secita-cita.

Dijamin Masuk Syurga.

Khadijah r.a mendampingi Muhammad SAW. selama dua puluh enam tahun, yakni enam belas tahun sebelum dilantik menjadi Nabi, dan sepuluh tahun sesudah masa kenabian. Ia isteri tunggal, tak ada duanya, bercerai karena kematian. Tahun wafatnya disebut "Tahun Kesedihan" ('Aamul Huzni). Khadijah r.a adalah orang pertama sekali beriman kepada Rasulullah SAW. ketika wahyu pertama turun dari langit. Tidak ada yang mendahuluinya.

Ketika Rasulullah SAW menceritakan pengalamannya pada peristiwa turunnya wahyu pertama yang dihantar Jibril 'alaihissalam, dimana beliau merasa ketakutan dan menggigil menyaksikan bentuk Jibril a.s dalam rupa aslinya, maka Khadijahlah yang pertama dapat mengerti makna peristiwa itu dan menghiburnya, sambil berkata:
"Bergembiralah dan tenteramkanlah hatimu. Demi Allah SWT yang menguasai diri Khadijah r.a, engkau ini benar-benar akan menjadi Nabi Pesuruh Allah bagi umat kita."
Allah SWT tidak akan mengecewakanmu.
Bukankah engkau orang yang sentiasa berusaha untuk menghubungkan tali persaudaraan?Bukankah engkau selalu berkata benar?
Bukankah engkau sentiasa menyantuni anak yatim piatu, menghormati tetamu dan menghulurkan bantuan kepada setiap orang yang ditimpa kemalangan dan musibah?"Khadijah r.a membela suaminya dengan harta dan dirinya di dalam menegakkan kalimah tauhid, serta selalu menghiburnya dalam duka derita yang dialaminya dari gangguan kaumnya yang masih ingkar terhadap kebenaran agama Islam, menangkis segala serangan caci maki yang dilancarkan oleh bangsawan-bangsawan dan hartawan Quraisy.

Layaklah kalau Khadijah r.a mendapat keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lain iaitu, menerima ucapan salam dari Allah SWT. yang dihantar oleh malaikat Jibril a.s kepada Rasulullah SAW. disertai salam dari Jibril a.s peribadi untuk disampaikan kepada Khadijah radiallahu 'anha serta dihiburnya dengan syurga. Kesetiaan Khadijah r.a diimbangi oleh kecintaan Nabi SAW kepadanya tanpa terbatas. Nabi SAW pernah berkata: "Wanita yang utama dan yang pertama akan masuk Syurga ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad SAW., Maryam binti 'Imran dan Asyiah binti Muzaahim, isteri Fir'aun".

Wanita TerbaikSanjungan lain yang banyak kali diucapkan Rasulullah SAW terhadap peribadi Khadijah r.a ialah:"Dia adalah seorang wanita yang terbaik, karena dia telah percaya dan beriman kepadaku di saat orang lain masih dalam bimbang keingkaran; dia telah membenarkan aku di saat orang lain mendustakanku; dia telah mengorbankan semua harta bendanya ketika orang lain mencegah kemurahannya terhadapku; dan dia telah melahirkan bagiku beberapa putera-puteri yang tidak ku dapatkan dari isteri-isteri yang lain".Putera-puteri Rasulullah SAW dari Khadijah r.a sebanyak tujuh orang: tiga lelaki (kesemuanya meninggal di waktu kecil) dan empat wanita. Salah satu dari puterinya bernama Fatimah, dinikahkan dengan Ali bin Abu Thalib, sama-sama sesuku Bani Hasyim. Keturunan dari kedua pasangan inilah yang dibangsakan sebagai keturunan langsung dari Rasulullah SAW.
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Yahoo
Feed

Sunday, 17 July 2011

Fath & akk pramugari

Harith Fathullah dah jejak umur 4thn bulan jun baru-baru nih. Macam biasa mulutnya tak berhenti berceloteh. Ada sedikit dialog ibu dan Fathullah nak dikongsi bersama-sama dgn pembaca.Sangat mencuit hati ibu si Fathullah ni..


Situasi Pertama: Didalam kapal terbang

Fathullah : Ibu, kakak tu gelak-gelak ( pramugari)
Ibu: Kenapa kakak tu gelak fath.
Fathullah: Sebab dia seronok sangat dpt naik kapal terbang kot.
Ibu: hihihi...

Geli sungguh la hati ibu dengar jwpn fathullah..dh sememangnya pramugari kerja dia senyum jek kan hihi...diorang nak muntah dh naik kapal terbang kot hihi
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Yahoo
Feed

Wednesday, 29 June 2011

Edah wanita

Bagi wanita-wanita yang keliru tentang edah. Penulisan ini mungkin dapat membantu.
Tafsir ayat 228 surah al-Baqarah:

Maksud ayat: “Dan isteri-isteri yang diceraikan itu hendaklah menunggu dengan menahan diri mereka (dari berkahwin) selama tiga kali suci (dari haid). dan tidaklah halal bagi mereka menyembunyikan (tidak memberitahu tentang) anak yang dijadikan oleh Allah dalam kandungan rahim mereka, jika betul mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suami mereka berhak mengambil kembali (rujuk akan) isteri-isteri itu dalam masa edah mereka jika suami-suami bertujuan hendak berdamai. dan isteri-isteri itu mempunyai hak yang sama seperti kewajipan yang ditanggung oleh mereka (terhadap suami) dengan cara yang sepatutnya (dan tidak dilarang oleh syarak); Dalam pada itu orang-orang lelaki (suami-suami itu) mempunyai satu darjat kelebihan atas orang-orang perempuan (isterinya). dan (ingatlah), Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana”.

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahawa wanita-wanita yang diceraikan oleh suami mereka, tempoh menunggu (edah) yang dikenakan kepada mereka sebelum mereka dapat berkahwin semula ialah tiga quru’ iaitu tiga kali suci atau tiga kali haid. Tujuan edah bagi wanita adalah untuk mempastikan bahawa ‘rahim’ mereka bersih supaya tidak wujud kecelaruan dalam menentukan nasab anak.

Justeru, haram bagi seseorang wanita menyembunyikan ‘kandungan’ di dalam rahimnya bagi membolehkannya berkahwin lain tanpa menunggu habisnya edah bagi orang yang hamil. Allah SWT mengetahui apa jua perlakuan manusia, maka hendaklah seseorang itu bersikap jujur dan amanah sekiranya ia benar-benar beriman kepada Allah SWT dan beriman kepada Hari Akhirat.

Dalam tempoh edah bagi talak raj’ie, suami berhak untuk rujuk kembali dengan isteri yang telah diceraikan itu. Hal ini kerana syarak amat menggalakkan agar ikatan perkahwinan itu dapat dikekalkan sedaya mungkin. Sehubungan dengan itu, perkara ‘halal’ yang paling dibenci oleh Allah ialah talak. Akan tetapi apabila habisnya tempoh edah, maka rujuk tidak dibenarkan lagi melainkan mereka berkahwin semula dengan akad yang baru.

‘Rujuk’ amat digalakkan sekiranya berniat baik untuk mengembalikan keharmonian rumahtangga. Akan tetapi sekiranya ‘rujuk’ itu berniat dengan yang tidak baik seumpama hendak menganiayai isteri seperti ‘menggantungnya tidak bertali’ maka perbuatan itu adalah haram dan berdosa di sisi Allah. Oleh itu, syarat ‘rujuk’ mestilah dengan tujuan dan kehendak yang baik.

Ayat di atas juga mengingatkan tentang tanggung jawab yang perlu ditunaikan sama ada dari pihak suami mahu pun dari pihak isteri. Namun, tanggung jawab memimpin keluarga dan rumahtangga adalah merupakan amanah yang wajib dipikul oleh suami. Oleh itu, suami juga wajib memberikan nafkah yang wajib kepada isteri berupa makan-minum, pakaian dan tempat tinggal.

Manakala isteri pula bertanggung jawab untuk menjadi ‘pembantu’ dan teman setia kepada suami. Tugasnya lebih tertumpu kepada memelihara kehormatan, menjaga rumah dan mendidik anak-anak. Di samping itu, isteri juga boleh membantu suami untuk keluar bekerja dengan melakukan pekerjaan yang sesuai dengan fitrah wanita sekiranya keadaan amat memerlukan. Namun begitu, adab-adab dan akhlak wajib dipelihara ketika keluar dari rumah seperti menutup aurat, tidak bergaul bebas dan tidak mewujudkan suasana yang boleh menimbulkan fitnah.

Pengajaran Ayat

Wajibnya edah bagi wanita yang bercerai adalah disebabkan perkara-perkara berikut:
- Untuk memastikan ‘rahim’ wanita itu benar-benar ‘bersih’.
- Memelihara kehormatan wanita
- Memelihara nikmat hidup berumahtangga.
- Berfikir akibat selepas perceraian.
- Memberikan peluang untuk kembali hidup sebagai suami isteri
- Berfikir tentang masa depan anak-anak.

Tempoh edah adalah seperti yang berikut:
- Bercerai sebelum sempat bersetubuh – tiada edah.
- Talak bagi wanita yang masih didatangi haid – tiga kali suci / haid
- Wanita yang tidak mempunyai haid seperti kanak-kanak yang belum baligh atau wanita yang sudah putus haid (menopause) – 3 bulan
- Wanita hamil – sehingga melahirkan anak
- Edah bagi suami yang meninggal dunia – 4 bulan 10 hari

Maksud perkataan (( quru’)) dalam ayat di atas:
Maksud ‘quru’ dari segi bahasa ialah suci dan haid. Oleh itu para fuqaha’ berbeza pendapat tentang edah wanita yang diceraikan.
- Pendapat ulama’ mazhab Maliki, Syafei: quru’ bermaksud ‘suci’ daripada haid. Pandangan ini dipegang oleh Ibnu ‘Umar, Aisyah, Zaid Bin Thabit dan salah satu pandangan dalam mazhab Hanbali.
- Pendapat Abu Hanifah dan Imam Ahmad (salah satu pandangan) : quru’ bermaksud haid. Pendapat ini juga dipegang oleh Umar, Ibnu Mas’ud, Abu Musa, Abu Darda’ dan selainnya.

Bagaimanakah terhasilnya ‘rujuk’?
- Ulama’ aliran mazhab Syafei : terhasilnya rujuk semasa edah dengan perkataan yang sarih seperti ‘aku rujuk dengan kamu’, atau kinayah yang ada niat seperti ‘aku nikah dengan kamu’. Rujuk tidak terhasil dengan perbuatan seperti bersetubuh.
- Jumhur ulama’ : terhasilnya rujuk semasa edah sama ada melalui perkataan atau pun perbuatan

Perkahwinan menuntut agar suami dan isteri melaksanakan tanggung jawab dan amanah masing-masing agar keharmonian dan keamanan di dalam rumahtangga dapat diperoleh. Kebahagian akan diperoleh sekiranya dapat mewujudkan kehidupan dan muamalah yang baik dalam keluarga.

  1. Talak Raj'i (rujuk)
    Talak Raj'i adalah talak di mana suami boleh merujuk kembali isteri yang diceraikannya itu dan diletakkan kembali di bawah jagaannya selama iddah masih belum tamat. Ini boleh dilakukan dengan niat dan keinginan yang semata-mata untuk merujuk kembali kepada isterinya.
  2. Talak Ba'in (nyata)
    Talak Ba'in adalah talak di mana suami tidak lagi dapat merujuk kembali akan isterinya atau dengan erti kata yang lain talak yang memisahkan sama sekali isteri dari suaminya. Talak Ba'in pula dibahagikan kepada dua bahagian iaitu Ba'in Sughra dan Ba'in Kubra.

i. Talak Ba'in Sughra
Talak Ba'in Sughra adalah talak yang kurang dari 3 kali. Maksudnya bila seseoranq suami menjatuhkan talak kali yang pertama (1) atau kali yang kedua (2) ke atas isterinya kemudian si suami tidak pula merujuk kembali akan isterinya itu sehinggalah tamat tempoh iddah, maka dengan sendirinya talak ini jatuh menjadi Talak Ba'in Sughra. Suami masih boleh berkahwin semula dengan bekas isterinya yang ditalak itu tetapi dengan syarat mestilah diakad nikahkan yang baru serta membayar mahar kahwin dan memenuhi syarat-syarat dan rukun perkahwinan.

ii. Talak Ba'in Kubra
Talak Ba'in Kubra adalah talak yang kali ke tiga (3) dijatuhkan oleh suami ke atas isterinya. Dengan jatuhnya talak kali ke tiga ini, maka terpisahlah seorang isteri dari suaminya sama sekali. Pasangan yang bercerai pada bilangan talak yang ke tiga tidak lagi boleh dirujuk atau untuk berkahwin semula sehinggalah bekas isteri itu berkahwin dengan lelaki lain dan disetubuhinya. Selepas itu wanita ini bercerai semula dengan suami keduanya maka dengan cara ini suami yang pertama bolehlah berkahwin semula dengan bekas isterinya itu.



Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Yahoo
Feed

Tuesday, 28 June 2011

Ulangtahun ke-5

2 julai nih genaplah 5 tahun usia perkahwinan eja dengan suami, mizi zafran pemunya blog http://carlzafranmz.blogspot.com/ . Rasa macam baru jer berumahtangga hihi...Alhamdulillah berkat kesabaran, kejujuran, kesetiaan dan tolak ansur sepanjang lima tahun nih kami lalui dengan gembira.Perselisihan kecil tu biasa la...bak kata orang lidah lagikan tergigit, ini pulak suami isteri hihi. Untuk anniversary nih eja dapat hadiah yang sangat best n bermakna dari kakak ipar sahabat eja huda iaitu kak fatan yang eja dah anggap macam sahabat dan kakak sendiri. Jom layan gambarnya

Menarik tak hihi..banyak love kan..tq kak fatan.Sesiapa yang berminat nk coklat camni boleh la tempah.Serius sedap. ni kali ke-3 eja order.Tapi kali nih spesel sikit sebab kak fatan hadiah. Kawan-kawan leh cek blog kak fatan nih untuk jamu mata tengok coklat-coklatnya yg sgt menarik 
http://www.fareenyhomemadecoklat.blogspot.com/

ok layan lagi gambar nih...

Okey, azam ulangtahun yang ke 5 nih..Semoga eja jadi isteri dan ibu yang solehah amin...
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Yahoo
Feed

Alkisah sepohon kayu



Assalammualaikum..
Sebelum ni eja asyik cerita tentang kisah wanita-wanita solehah jer. Kali ni eja nk cerita sket tentang baby alisya pulak. Baru jer buaikan alisya dan tertidur pun dia. Masa nak buaikan alisya nih tak ler susah...masa buai kena nyanyi2 sket.. mula-mula eja nyanyi lagu twinkle-twinkle little star...respon dia mengedik-mengedik plak cm xsesuai plak nk kasi dia tidur. Lepas tu nyanyi plak lagu buai laju-laju macam tak jalan juga...last sekali eja nyanyi lagu 'sepohon kayu' dari kumpulan nasyid saujana...uhh layan plak dia terus lena hihi....k lah nih lirik lagu tu

Sepohon kayu daunnya rimbun,
Lebat bunganya serta buahnya,
walaupun hidup seribu tahun,
kalau tak sembahyang apa gunanya.

Kita berkerja sehari-hari,
penat dan lelah tidak berhenti,
hidup di dunia tiada beerti,
akhirat di sana sangatlah rugi.

 Disebabkan sekarang nih dah waktu maghrib, jomla kita solat dulu yek...rugi hidup kat dunia kalau hambakan diri pada kerja jer...kalau ikutkan kerja mmg sampai mati pun tak habis-habis. Bukan membebel hihi tapi ni sebagai ingatan untuk kawan-kawan semua. Jom enjoy smbil menunaikan tanggungjawab kepada yg Esa....pas solat leh smbung blog n fesbuk...
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Yahoo
Feed

Monday, 27 June 2011

Lelaki yang harus dicintai wanita

Wanita solehah tidak boleh sembarangan mencintai lelaki. Lelaki yang paling wajar dicintai oleh wanita solehah ialah Nabi Muhammad SAW. Ini kerana Nabi Muhammad SAW adalah pembela nasib kaum wanita. Baginda telah mengangkat martabat kaum wanita daripada diperlakukan dengan kehinaan pada zaman jahiliyah, khususnya oleh kaum lelaki.


Ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW juga berjaya menyempurnakan budi pekerti kaum lelaki. Ini membawa keuntungan kepada kaum wanita kerana mereka mendapat kebebasan dalam kawalan dan perlindungan keselamatan oleh kaum lelaki. Iaitu dengan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW menjadikan bapa atau suami mereka berbuat baik dan bertanggungjawab ke atas keluarganya. Demikian juga dengan kedatangan Rasulullah SAW telah menjadikan anak-anak tidak lupa untuk berbakti kepada ibu mereka, cthnya seperti Uwais Al-Qarni.

Salah satu tanda kasih Baginda SAW terhadap kaum wanita ialah dengan berpesan kepada kaum lelaki agar berbuat baik kepada wanita, khususnya ahli keluarga mereka. Rasulullah SAW sendiri menjadikan diri dan keluarga baginda suri teladan kepada kaum lelaki untuk bagaimana berbuat baik dan memuliakan kaum wanita.
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Yahoo
Feed

Thursday, 23 June 2011

Bidadari yang Menanti di Syurga

Wahai peminang bidadari Allah,

Allah s.w.t secara jelas menceritakan di dalam al-Qur'an bahawa balasan untuk orang-orang yang bertaqwa adalah balasan Syurga seluas langit dan bumi di hari akhirat nanti. Kenikmatan di dalam Syurga yang banyak di gambarkan di dalam al-Qur'an adalah kecantikan dan keindahan para bidadari. Bidadari yang akan menjadi isteri-isteri orang-orang Mukmin di Syurga nanti.


Al-Qur'an menceritakan sifat-sifat bidadari adalah seperti berikut :

1. "Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jeli matanya, seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik."(Qs. Ash-Shaaffaat [37]: 48-49)
2. "Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya."(Qs. Shaad [38]: 52)
3. "Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin." (Qs. Ar-Rahmaan [55]: 56)
4. "Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan." (Qs. Ar-Rahmaan [55]: 58)
5. "Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang baik- baik lagi cantik-cantik." (Qs. Ar-Rahmaan [55]: 70)
6. "(Bidadari-bidadari) yang jeli, putih bersih, dipingit dalam rumah." (Qs. Ar-Rahmaan [55]: 72)
7. "Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin." (Qs. Ar-Rahmaan [55]: 74)
8. "Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah." (Qs. Ar-Rahmaan [55]: 76)
9. "mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli." (Qs. Ath-Thuur [52]: 20)
10. "Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik." (Qs. Al-Waaqi’ah [56]: 22-23)
11. "Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya." (Qs. Al-Waaqi’ah [56]: 35-37)
12. Gambaran bidadari dalam Hadis Ath-Thabarany menuturkan, dari Ummu Salamah Radhiallahuanha, dia berkata,

“Saya berkata,”Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli”.”
Baginda menjawab,”Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar.” 
Saya berkata lagi,”Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku tentang firman Allah, “˜Laksana mutiara yang tersimpan baik.”(Surah Al-Waqi'ah: 23)
Baginda menjawab,”Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.”
Saya berkata lagi,”Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, “˜Di dalam Syurga-syurga ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.” (Ar-Rahmaan: 70)
Baginda menjawab,”Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jeli.”
Saya berkata lagi,”Jelaskan padaku firman Allah, “seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik.” (Surah Ash-Shaaffaat: 49)
Baginda menjawab,”Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bahagian dalam telur dan terlindung kulit bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”
Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan padaku firman Allah, “˜Penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (Surah Al-Waaqi'ah: 37)
Baginda menjawab,”Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, berghairah, mengasihi dan umurnya sebaya.” ................(hingga akhir hadis).

Wahai para mukminin yang dirahmati Allah,

Nabi s.a.w bersabda maksudnya : "Setiap lelaki yang masuk Syurga akan diberi 72 bidadari; tidak peduli pada umur berapa dia mati, ketika dia masuk Syurga dia akan menjadi seorang yang berumur 30 tahun dan tidak akan tambah tua. Lelaki di Syurga akan diberi keperkasaan yang sama dengan keperkasaan seratus orang lelaki." (Hadis Riwayat Tirmizi)

Firman Allah s.w.t maksudnya : "Sungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam Syurga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab Neraka. (Dikatakan kepada mereka): "Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan", mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli."
(Surah ar-Rahman ayat 70-77)

Diriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda maksudnya : "Allah s.w.t. telah menciptakan wajah-wajah bidadari terdiri dari 4 warna; putih, hijau, kuning dan merah. Dan tubuhnya diciptakan dari za'faran, misik dan kafur. Dan rambutnya diciptakan dari cengkeh. Bahagian tubuhnya mulai dari kaki sampai lutut tercipta dari za'faran. Dari lutut sampai buah dada tercipta dari anbar. Dari leher sampai kepala tercipta dari kafur. Andaikata meludah ke dunia, maka ludahnya akan menjelma menjadi misik. Pada setiap dadanya tertulis nama suaminya dan nama dari nama-nama Allah s.w.t.. Pada setiap tangannya mengenakan 10 gelang dari emas, memakai cincin sebanyak 10 pada jari-jarinya, memakai 10 perhiasan gelang kaki dari mutiara dan permata."

"Sekurang-kurangnya penduduk syurga itu memiliki 80,000 pelayan dan dikahwinkan dengan 72 isteri (bidadari). Mereka diberi kekuatan 100 orang ketika makan, minum dan senggama. Dicipta bidadari secara langsung oleh Allah s.w.t. dan bukan melalui proses kelahiran. Kejelitaan digambarkan seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan. Yang sentiasa dara lagi sebaya umurnya, cantik, manja, rindu dan amat mencintai suaminya. Yang suci dari sebarang kotoran, haid, nifas, kencing dan air mani. Sopan menundukkan pandangan, tidak pernah disentuh oleh mana-mana jin atau manusia sebelum mereka."

"Sangat putih kulitnya. Bermata jeli, anak mata hitam pekat bagaikan mata bayi yang baru dilahirkan, bahkan lebih jernih dan lebih becahaya. Lebar matanya disertai bulu mata bagaikan sayap burung yang sedang terbang. Mempunyai betis yang tembus, yang sangat indah mata melihat sehingga boleh terlihat sumsum betis dari belakang dagingnya. Mempunyai kelembutan seperti lembutnya selaput telur di dalam telur yang melekat di kulit luar. Dikurniakan Allah s.w.t. cahaya pada wajah seperti bulan purnama. Cahaya serta bau harum semerbak pada tubuh mereka dapat memenuhi dunia antara langit dan bumi. Sedangkan tutup kepala bidadari itu lebih baik dari dunia dan seisinya."

Mukminin yang dikasihi,
Kisah mengenai kecantikan bidadari yang diceritakan Allah s.w.t dalam al-Qur'an dan hadis-hadis Nabi s.a.w. adalah sebagai motivasi kepada orang-orang Mukmin supaya merasai dan menganggap hidup di dunia ini adalah sementara saja dan kehidupan di hari akhirat adalah kehidupan yang kekal abadi dan kenikmatan sebenarnya adalah disana bukan di dunia ini.
Jauhilah segala maksiat dan kemungkaran kerana nikmat di dunia ini adalah menipu dan tidak kekal lama. Mereka yang terpesona dengan nikmat di dunia dan sanggup melakukan kemungkaran akan menderita di hari akhirat nanti yang di sediakan azab oleh Allah s.w.t.

Setiap orang Mukmin yang sentiasa berjihad dan berjuang di jalan Allah dengan ikhlas untuk mencari keredhaan-Nya maka 72 orang bidadari sedang menantinya disana, dan mereka tidak sabar-sabar menanti kedatangan suami-suami mereka yang masih berada didunia lagi.

Bidadari-bidadari yang berada di Syurga marah kepada isteri orang Mukmin di dunia yang menyakiti hati bakal suami-suami mereka kerana isteri yang di dunia ini adalah sementara saja sedangkan bidadari-bidadari yang di Syurga adalah isteri-isteri yang kekal abadi untuk orang-orang Mukmin. Isteri yang solehah pula akan menjadi ketua bidadari di Syurga nanti dan kecantikannya akan dapat mengatasi kecantikan bidadari.

Terdapat satu kisah mengenai bidadari menanti untuk menjadi isteri orang yang bertaqwa.

Pada suatu musim haji Abu Sulaiman Ad Darany pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam Rasulullah s.a.w di Madinah.Di tengah perjalanan,dia berjumpa dengan seorang pemuda yang bagus dan pakaiannya kemas.Pemuda tersebut memberi salam dan dijawab oleh Abu Sulaiman dan teman-temannya.
"Dari mana anda ?" tanya Abu Sulaiman
"Saya dari Iraq" jawabnya
"Bolehkah saya pergi bersama rombongan tuan ?"
"Boleh."
Maka pemuda itu pun bergabung dengan Abu Sulaiman yang sama-sama ingin menuju ke Makkah.sepanjang perjalanan, pemuda tersebut sentiasa membaca Al Qur'an dan bila berhenti istirehat pula terus mengerjakan solat.Pada waktu siang dia berpuasa dan waktu malam diisinya dengan solat, zikir dan munajat kepada Allah.
Di kala orang lain sedang rehat atau tidur dia terus beribadah tidak berhenti-henti. Begitulah kebiasan pemuda itu yang dikerjakannya sampai ke Makkah.Dia kelihatan tidak letih atau malas bahkan dari hari ke hari semakin rajin dan giat sehingga orang yang melihatnya merasa kagum.
Setelah beberapa hari berjalan sampailah Abu Sulaiman ke tanah suci Makkah dan masing-masing sibuk dengan urusan mereka.begitu juga dengan pemuda soleh itu akan berpisah dengan Abu Sulaiman.namun sebelum berpisah Abu Sulaiman ingin bertanya kepadanya mengenai kerajinnannya.
"Wahai anakku,aku lihat engkau begitu giat melakukan ibadah tidak kenal letih.Apakah yang mendorong engkau berbuat demikian ?" tanya Abu Sulaiman
"Wahai Abu Sulaiman jangan mencaci aku dalam perkara ini.Sesungguhnya aku telah bermimpi di dalam tidurku aku melihat bangunan-bangunan Syurga yang diperbuat dari batu bata emas dan perak aku lihat pula di dalam istana itu bidadari-bidadari yang sangat cantik tidak pernah aku lihat wajah secantik itu sebelumnya.
Salah seseorang di antara mereka tersenyum kepada ku dan berkata :"Wahai pemuda ! Bersungguh-sungguhlah engkau kerana Allah dalam meminangku.Aku berharap agar aku akan menjadi milikmu dan engkau menjadi milikku."

Setelah itu aku pun terjaga.
Demikianlah si pemuda menceritakan mimpinya yang sangat menarik.dan mimpi itu pulalah yang membuatnya begitu bersungguh-sungguh tidak kenal letih dalam beribadat kepada Allah.Kerana barang siapa yang bersungguh-sungguh dia akan dapat.
Setelah mendengar kisah tersebut Abu Sulaiman menjadi tertarik dan memintanya agar mendo'akan untuk dirinya. Kemudian dia pun pergi.
Wahai mukmin sejati,

Usah diragu bilakah nikmat Allah itu akan tiba, tapi hisablah adakah amalan kita ini sudah cukup untuk melayakkan kita memperoleh nikmat Allah. Nikmat di dunia ini hanya sementara dan nikmat di Akhirat itulah yang kekal selamanya. Marilah kita sama-sama mempersiapkan diri kita untuk kematian kita.

Saidina Abu Bakar As-Sidiq pernah berkata, orang yang meninggal tanpa bekalan ibarat orang yang dicampakkan ditengah lautan tanpa pelampung.

Jadilah kita orang yang bertaqwa kepada Allah, mudah-mudahan kita mendapat redha Allah dan syurga itu pengakhiran kita..
InsyaAllah..
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Yahoo
Feed

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...